Sunday, July 05th, 2009 | Author: Felix Siauw

MENIMBANG: BAHWA MENGANGKAT PEMIMPIN ADALAH WAJIB DALAM PANDANGAN ISLAM

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya),
dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu.
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,
maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya),
jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian
Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya
(TQS an Nisaa [4] : 59)

MENGINGAT: BAHWA PEMIMPIN YANG DIANGKAT MEMILIKI KETENTUAN

a. Tidak Kafir:
Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali
(TQS ali-Imraan [3]: 28)

b. Meneruskan cara kepemimpinan nabi yaitu menerapkan al-Qur’an dan as-Sunnah
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya),
dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu.
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,
maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya),
jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian
Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya
(TQS an Nisaa [4] : 59)

“Dulu Bani Israil diurus urusannya oleh para Nabi.
Setiap kali seorang Nabi meninggal, Nabi yang lain menggantikannya.
Sesungguhnya tidak ada Nabi sesudahku dan akan ada para khalifah, yang berjumlah banyak”
Para sahabat bertanya “Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?”
Nabi saw. Bersabda: “Penuhilah baiat yang pertama saja dan hanya yang pertama (satu khalifah),
dan berikanlah kepada mereka hak mereka.
Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka atas apa saja yang mereka urus”
(HR. Bukhari)

c. Pemimpin ini adalah Khalifah yang satu untuk seluruh muslim di dunia
Jika dibai’at dua orang Khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.”
(HR. Muslim)

MEMUTUSKAN
Bahwa dengan pertanggungjawaban penuh terhadap pilihan ini terhadap Allah, dan berjanji akan menegakkan kepemimpinan yang dimaksud dalam hadits diatas sepenuh jiwa dan harta, maka saya tidak akan memilih siapapun dalam pilpres 2009

alasan untuk tidak memilih:

1. Siapapun yang terpilih nanti tidak akan menghilangkan kewajiban mengangkat pemimpin (nashbul Imam) karena yang dimaksud dalam dalil-dalil mengangkat pemimpin adalah pemimpin kaum muslim yang menerapkan qur’an-sunnah, bukan yang tidak menerapkannya, bahkan bicara saja belum berani.
Artinya, walaupun setelah 8 juli nanti ada pemimpin yang terpilih, maka ummat Islam semuanya tetap berdosa, karena kita belum membatalkan kewajiban memilih pemimpin

2. Calon-calon yang sekarang menetapkan akan memakai sistem sekulerisme, yang itu adalah kebodohan dalam pandangan rasulullah:

Diriwayatkan dari Jabr bin Abdillah ra dari Nabi saw sesungguhnya beliau bersabda kepada Ka’ab bin Ajrah, “Semoga Alah menjauhkan kamu dari pemimpin yang bodoh.”

Ka’ab bertanya, “Siapakah pemimpin yang tolol/bodoh itu, ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Yaitu para pemimpin sesudahku yang tidak mau memberi petunjuk seperti petunjukku, tidak pula mau menerapkan syariat (peraturan, undang-undang) seperti ajaranku. Barangsiapa membenarkan perilaku pemimpin tersebut dengan segala kebohongannya dan membantu segala perilaku zhalimnya, maka mereka bukan termasuk ummatku dan aku terbebas dari mereka. Mereka tidak akan pernah mencicipi telagaku (di surga). Sebaliknya, barangsiapa tidak membenarkan segala kebohongan yang diperbuat pemimpin tersebut dan tidak pula membantu perilaku zhalimnya, maka mereka termasuk ummatku dan akupun meridhainya. Mereka akan minum air telagaku (di surga)”
(HR. Ahmad)

3. Pilpres justru akan menimbulkan perpecahan diantara kaum muslim, dan sudah sangat jelas sebagai suatu hal yang sangat melalaikan dalam perjuangan kaum muslim, sehingga lebih baik kita ber-istiqamah dalam perjuangan Islam.

4. semua dalil sudah ada dengan jelas diatas, semoga Allah menunjukkan kebaikan pada kaum muslim

maka: PERUBAHAN BESAR hanya dapat terjadi dengan penerapan sistem Islam, dan penerapan Islam dengan Khilafah Islam LEBIH CEPAT LEBIH BAIK, maka berjuanglah secara serius untuk LANJUTKAN kehidupan Islam!

akhukum fillah, al-faqir ila Allah

Felix Siauw

Category: Politik
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

5 Responses

  1. 1
    Trisanwaty Andi Azis 
    Monday, 6. July 2009

    Sistem pemerintahan Islam merupakan jawaban yang sangat tepat untuk problematika ummat Islam dipelosok manapun mereka berada. sayangnya, teman2 yang mengatakan memperjuangkan tegaknya Islam diparlemen tidak bisa membedakana mana thoriqoh perjuangan mana uslub perjuangan sehingga mereka mengambil kebijakan aneh-aneh yang kemudian sangat mengkhianati rakyat….heran….
    mereka punya fikroh dan thoriqoh dakwah atau tidak yah…
    atau memang dari awal dakwah mereka tidak jelas apa fikroh dan thoriqohnya…
    mana mungkin ‘orang yang tenggelam dapat menyelamatkan orang yang tenggelam juga’…
    yg paling mengherankan ketika mereka mengatakan pilih mana: ‘babi cap unta atau unta cap babi’..halahhhh…..
    begitu sangat naif dan pragmatis mereka sampai menganalogkan kondisi umat islam seperti itu….
    Anehhhh…….
    Khilafah Is the only solution…
    Semangat…..Allahu Akbar…

  2. 2
    atiqah, LDK BKLDM-UNHALU... 
    Tuesday, 7. July 2009

    ya….perubahan terbesar hanya akan kita peroleh dengan penerapan syari’at islam…..maka dari itu:

    perjuangan penegakkan syri’ah dan khilafah,, kita lanjutkan!!
    penerapan syariat islam, lebih cepat lebih baik!!
    syari’ah dan khilafah pasti pro rakyat!!!
    :mrgreen: :roll: :oops: :razz:

  3. 3
    habib alhabsy 
    Saturday, 24. October 2009

    hmm tulisan yang bagus :???: two thumbs :grin:

  4. Assalamu’alaikum wrwb.
    Ustadz Felix yang saya hormati,
    Maaf sebelumnya jika kami komentar kami ini nantinya kurang berkenan di hati. Tidak lain komentar ini kami lakukan hanya untuk mencari kebenaran Islam yang sesungguhnya.
    Langsung saja. Mencermati ayat yang Ustadz sampaikan di atas bahwa Qs. An Nisa ayat 59 di atas yang ustadz maksud ulil amri adalah pemimpin negara saat ini. Menurut pemahaman kami selama ini, yang dimaksud ulil amri dalam ayat di atas adalah Pemimpin orang-orang Islam yang mereka di baiat dan diberi amanah untuk melayani kaum muslimin seperti layaknya Rasulullah SAW dan keempat khalifah setelahnya.

    Kalaulah ulil amri yang ustadz katakan adalah presiden atau pemimpin negara ini, maka itu artinya Islam ini dibatasi oleh wilayah [tidak rahmatan lil alamin]. Untuk lebih jelas penjelasan kami, mohon kiranya bisa berkunjung ke blog kami di: http://www.tausiyahhidup.blogspot.com, dan pilih judul dengan nama: khilafah dalam tinjauan syar’i atau bisa juga di baca pada judul: khilafah, negara dan kerajaan sebuah faradox.

    Semoga niat kita untuk mencari kebenaran islam ini sama-sama mendapat ridha Allah SWT, amiin.

    Salam,
    Saudaramu,

    Abu Labib ‘Abdullah

  5. 5
    Felix Siauw 
    Monday, 1. March 2010

    Wa’alaikum salam warahmatullah…

    ahsan pak, begitulah maksud saya..
    makanya saya tuliskan diatas, bahwa karena Allah mewajibkan pemimpin yang satu untuk seluruh muslim sebagaimana khalifah setelah rasulullah, maka presiden hukumnya haram =)

    demikian yaa akhii
    salam,

    Felix Siauw

Leave a Reply » Log in

Powered by WP Hashcash